Rabu, 05 April 2017

Pulau Santen.. Satu Lagi Wisata Anyar Di Banyuwangi

Halo semua... setelah lamaaaaa banget saya ga nge blog, akhirnya saya bisa nge blog hari ini. Kendalanya tentu saja karena kesibukan saya mengurus putra putri saya yang sedang aktiv-aktivnya. Kesepakatan saya dan suami untuk tidak menggunakan ART lagi menjadikan saya harus lebih fokus lagi mengurus keluarga. Ya.. beberapa waktu lalu memang ada ART di rumah, tapi saya merasa pekerjaan tetap saja tidak selesai dengan adanya ART, ditambah lagi saya harus memikirkan cara mengajarkan ini itu tentang rumah kepada ART. Bukannya berkurang, malah nambah kerjaan saya 😩😩. Fatalnya adalah ketika banyak baju-baju yang warnanya pudar separo karena ditaruh di tempat panas pake banget sama ART saya. 😣😣😣
Akhirnya kami memutuskan untuk tidak pakai ART lagi.
Okeh, cukup curcol soal ART nya,  balik lagi ke topiknya, yaitu tentang Wisata Alam Pulau Santen di Banyuwangi. Sabtu kemarin saya ikut mengantar Afat untuk acara belajar di alam terbuka yang diadakan sekolahnya. Kebetulan acaranya di Pulau Santen. Sebenarnya sejak gema wisata Pulau Santen ini membahana ke seantero Banyuwangi, saya tidak berminat sedikitpun untuk kesana. Alasannya adalah dalam bayangan saya letaknya agak nyelempit. Agak susah jika menggunakan mobil untuk menjangkaunya,terutama untuk sopir baru seperti saya, yang maksain harus bisa nyetir biar bisa bawa krucil-krucil kemana-mana. Tapi karena acara sekolahnya Afat, saya mau gak mau harus kesana.


Panas.. berteduh dulu sambil foto-foto 

Afat dan Teman Satu Kelasnya

Pulau Santen adalah wisata pantai yang terletak di desa Karangharjo, Banyuwangi. Jaraknya tiga kilometer dari jantung kota Banyuwangi. Sekitar 10-15 menit perjalanan saja menuju arah stasiun lama Banyuwangi. Dinamakan Pulau Santen karena di pantai ini banyak ditumbuhi pohon yang disebut pohon santen oleh masyarakat sekitar. Wisata ini adalah tempat wisata syariah, artinya hanya pengunjung wanita saja yang boleh datang ke pantai, bagi pengunjung pria, kecuali anak-anak tidak diperbolehkan masuk ke pantai, tapi boleh berjalan-jalan di kampung nelayan yang ada di sekitar pantai.  Jalan menuju kesana seperti perkiraan saya memang agak sempit, tapi sudah beraspal bagus. Hanya saat ada dua mobil bersalipan, keduanya harus sama-sama rela menjatuhkan satu sisi ban dari aspal agar bisa berjalan dengan lancar. Dalam perjalanan menuju Pulau Santen kita bisa mampir sebentar di Klenteng Hoong Tong Bio. Klenteng ini memiliki banyak sudut yang indah untuk berfoto-foto.

Saat saya sampai di Pulau Santen, saya harus memarkirkan mobil di kantong parkir yang disediakan, lalu berjalan untuk menuju pantai. Kita juga harus melewati jembatan kayu yang membelah mangrove untuk menyeberang agar sampai di pantai.
Sesampainya di pantai, kita disuguhi jajaran payung warna warni dengan kursi warna warni juga yang katanya mirip La Planca Bali, saya sendiri belum tau seperti apa La Planca Bali, tapi bagi saya, jajaran warna-warna itu memberi daya tarik tersendiri.

Afat lagi pura-pura tidur 😂

Pantainya berpasir hitam, dengan ombak yang tenang, dari pantai kita bisa langsung melihat Pulau Bali di seberang. Kita bisa bersantai sambil duduk di bawah payung untuk melihat keindahan pantainya. Sewa payungnya tidaklah mahal, hanya sepuluh ribu rupiah untuk satu jam nya. Ini yang paling murah yang saya tau selama ini. Jika lapar, banyak sekali warung yang berjajar di kampung nelayan, yang siap mengisi perut.
Sambil menunggu Afat selesai mengikuti acara, saya duduk bersantai di bawah payung bersama adeknya, berfoto dan menikmati pemandangan pantai yang indah. Banyuwangi memang indah...

Adek lagi santai.. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar